Sunday, December 30, 2007

Pengakuan Seorang Pemalas


Pemalas
Hai.

Nama saya tidak penting. Saya laki-laki, dilahirkan 30 tahun yang lalu di Jakarta, dengan bintang Leo. In relationship, punya pekerjaan bagus. Tinggal sendiri di kota besar ini.

Kamu tidak kenal saya, saya juga tidak kenal kamu. Saya orang baru disini.

Di tulisan ini saya mau mengakui sesuatu tentang diri saya yang tidak ada orang lain yang tahu.

Yaitu, saya, seorang pemalas.

Saya memulai hari dengan malas. Setiap bangun yang pertama kali saya pikirkan adalah, apa saya harus masuk kerja? Berapa hari lagi jatah sick leave saya? Dan kenapa sih orang harus kerja?

Dan kalo pun akhirnya saya bangun, mandi dan pergi ke kantor itupun saya lakukan dengan terpaksa dan dengan satu tujuan: sebisa mungkin tidak mengerjakan apa-apa hingga jam pulang kantor tiba!

Oh jangan khawatir, banyak hal yang bisa dilakukan dikantor sambil terlihat kerja. Ada ruang pantry tempat berlama-lama membuat kopi sambil ngobrol, ada meeting berjam-jam dimana kamu cuma perlu duduk manis, ada lunch hour, (!) really loooong lunch hour. Dan ada komputer dan internet (ah penemuan yang brilian luar biasa) dimana kamu bisa duduk berjam-jam terlihat bekerja padahal sibuk mem-forward email lucu (yang kadang jorok) ke teman-teman kamu.

Kalo satu hari terbuang percuma maka saya akan menepuk dada dan memberi selamat pada diri saya sendiri. Selamat bung, kamu berhasil membuang waktu sehari penuh tanpa kerja!

Ya saya seorang pemalas, keahlian saya adalah membuang-buang waktu.

Oya jangan salah, tidak ada yang tahu tentang hal ini, tidak teman kerja saya, tidak boss saya. Sepengetahuan saya, semua orang menyangka saya seorang yang normal. Tapi mereka salah.

Kuncinya adalah, cukup mengerjakan pekerjaan yang benar-benar harus disaat yang benar-benar penting. Di luar itu, jangan kerja! Cukup duduk manis di depan komputer, berpakaian rapih dan terlihat sibuk.

Saya bukan orang yang bodoh, justru karena saya pintar maka saya malas dan menerima tawaran pekerjaan ini (saya terlalu malas buat ngirim-ngirim lamaran).

Saya malas kuliah dulu, tapi didaftarkan oleh orang tua saya. Saya lulus karena berpegang pada prinsip kemalasan saya tadi, mengerjakan hanya hal yang harus dikerjakan.

Ya saya seorang pemalas, dan saya tidak sendirian.

Sudah dengar cerita tentang lomba malas sedunia? Intinya kira-kira begini.

Tiga pemenang lomba malas sedunia diwawancara dalam sebuah talk show.

Juara 3 ternyata ditempati oleh orang yang tidak makan dan minum selama 12 hari karena untuk makan saja dia MALAS. Juara 2 ditempati oleh orang yang tidak buang air besar selama sebulan, dan menurut pengakuannya, itu dia lakukan karena dia MALAS.

Dan ketika kamera beralih ke juara 1, ternyata sang pemenang sedang menangis tersedu-sedu.

“Kenapa?”, tanya si pembawa acara, “Kok malah sedih? Harusnya Anda senang dong menjadi juara 1.”

“Oh bukan itu, saya senang kok juara. Ini ANU saya kejepit di resleting”, jawabnya sambil terus tersedu-sedu.

“Loh!? Terus kenapa tidak dibuka?”, tanya pembawa acara keheranan.

“Abis saya malaass”.

Saya seorang pemalas, dan website favorite saya adalah malesbanget.com

Bukannya saya tidak punya inspirasi atau cita-cita. Saya merasa banyak orang yang salah paham tentang pemalas dan saya ingin membenarkan pandangan itu.

Sekitar tahun 2001-an saya sudah mau mulai membeberkan true story ttg para pemalas dalam bentuk artikel, buku dan seminar-seminar, sayang terus sayanya malas.

Dan karena itulah, sejak Januari 2004 saya memulai menulis pengakuan ini untuk meluruskan permasalah kemalasan itu. To keep the record straight. Akhirnya setelah 11 bulan, karena nulisnya males-malesan, pengakuan ini syukur rampung juga.

See, untuk hal-hal penting, selesai juga kok akhirnya. Bukannya saya tidak punya prioritas buktinya saya punya pekerjaan tetap, punya pacar, punya kehidupan.

Saya seorang pemalas, dan tokoh favorite saya adalah Kabayan.

Dunia penuh oleh para pemalas, bukankah pepatah mengatakan laziness is the mother of all invention?

Orang malas jalan, maka diciptakanlah mobil, orang malas membuat tabel dan menghitung dengan sipoa maka terciptalah Excel, orang malas memasak maka terciptalah instant food dan microwave.

Tanpa para pemalas, dunia ini akan tetap di jaman batu.

Jadi tidak ada yang salah dengan berlaku malas. Mungkin saya akan menciptakan sesuatu, mungkin sebuah robot yang persis saya yang akan mengerjakan segala sesuatu yang harus saya kerjakan.

Ya saya seorang pemalas, dan utopia saya adalah dunia penuh robot dimana saya bisa hidup di dalam mesin mimpi.

“Apakah kamu bahagia?”, kamu mungkin bertanya, “bukankah kebahagiaan, salah satunya datang dari rasa kepuasaan disaat kamu mengerjakan sesuatu, disaat kamu tahu ada hasil dari yang kamu kerjakan, ada reward, perasaan puas (wekdor)?”

Oh terima kasih, tapi saya tidak punya waktu (!) untuk memikirkan kebahagiaan saya cukup sibuk mempertahankan kemalasan saya.

Saya cukup senang (apakah bahagia itu senang? bukan, senang itu hitut dina se’eng) dengan hidup saya sekarang.

Di akhir sebuah hari, jika saya berhasil tidak mengerjakan apa-apa di hari itu maka saya akan merayakan hari tersebut dengan makan malam yang enak dan menghibur diri dengan cara apapun.

Kadang sendiri, kadang dengan teman yang tidak merepotkan atau dengan pacar yang tidak menyusahkan, tapi seringkali sendiri. Orang lain adalah pekerjaan dan saya malas mengurusnya.

Habis itu saya akan pulang kerumah, memarkirkan mobil ke garasi rumah saya yang tidak pernah ditutup (males nutupnya), masuk ke tempat tidur, melihat langit-langit, mengingat lagi bahwa hari ini saya tidak mengerjakan apa-apa. Satu hari lagi terbuang percuma dan saya pun menangis tersedu-sedu.

Tidak apa, tidak apa, saya tidak apa-apa, tinggalkan saja saya, saya butuh sendiri, saya sudah terbiasa dengan rasa sakit ini.

Anu saya sudah kejepit resleting sejak 7 tahun yang lalu. Tiap pagi robot saya menjepitkan anu saya di resleting, dan tiap malam dia melepaskannya lagi.

Ya saya seorang pemalas.

Dan inilah pengakuan saya.

http://enda.goblogmedia.com Dongeng Selengkapnya

Pornobasi dan Pornosapi

pornosapi.jpg
Jadi begitu ya sodara-sodara, undang-undang yang mau kita undangkan ini penting sekali. Dan ini untuk kesejahteraan dan kebaikan umat semuanya.

Sekali lagi, ini hanya untuk kepentingan umat semata. Setuju?

SETUJUUUUU

Nah begitu bagus. Apa jadinya nanti anak-anak kita, istri-istri kita, kakak adik kita kalo tanpa undang-undang dan peraturan ini. Apa jadinya negara kita ini, nanti akan menjadi negara tidak bermoral! Semua harus kita kontrol!

HAAAAAA KONTROOOOOOOOLLLLLL?

Eh bukan. Maksud saya harus kita kendalikan. Ibaratnya ya seperti kita mau memotong terong..

HIHIHIHI IH IH TEROOOOOOOONGGG!

Loh bukan-bukan, sodara-sodara maksud saya, misalnya ya undang-undang ini adalah pisau dan kita mau memotong wortel..

IH IH IH… WORTELLLLL!

Iya wortel! Kenapa wortel?! Jadi misalnya kita mau memotong wortel, kan kita ini sekarang di daerah yang banyak gunungnya ya…

HO HO HO GUNUUUUUUNG! GUNUUUUUUUUUUNG!

…Dan daerah yang banyak lembahnya juga..

HAUHAUHA LEMBAH! LEMBAH! LEMBAH!

Loh sodara-sodara jangan berpikir ngeres, ini saya bicara serius tentang masa depan kita. Kita harus berani dan percaya diri demi kemajuan kita bersama! Kita harus maju kedepan dan menunjuk ini dadaku!

HIHIHIHIHI.. DADA! DADA! DADA!

Loh bukan maksud saya… maksud saya… kita harus pokoknya! Pokoknya harus!

Dan ingat di pemilu mendatang Anda-Anda semua harus mencoblos partai saya ya!

IH IH IIIIIIIIIH COBLOOOOOOOOOOS!

Iya coblos… eh maksud saya colok…

HIHIHIH COLOK! COLOK! COLOK!

Ya ampun, bukan maksud saya ketika Anda-Anda masuk kamar…

HAHAHA KAMAR! KAMAR! KAMAAAAAAAAAAAR!

Tenang sodara-sodara, tenang! Mungkin saya salah melangkah dalam memilih kata-kata saya. Ijinkan saya memulai lagi.

Jadi tadi pagi saya sempat sarapan bersama istri saya, kami berdua sarapan lemper dan bakpau..

HUAHAUHAUA LEMPER! HUAHAUHAUHA BAKPAU!

Ya ampun, bukan-bukan! Maksud saya… Tenang! Tenang! Kita semua harus berpikiran jernih dan bersih! Ya?! Setuju ya bahwa berpikiran bersih itu penting?

YAAAA YAAAAA YAAAAA

Ya Tuhan, maksud saya. Coba kita pikirkan satu hal yang sama sekali bersih dan tidak membangkitkan syahwat. Coba sodara-sodara, mari kita menggali ke dalam diri kita untuk berpikir tentang… tentang… tentang sapi misalnya. Ya sapi!

HUAHUAHUA SAPI! SAPI! SAPI!

Loh iya sapi! Sapi kan binatang biasa toh. Hewan ternak yang kita makan dagingnya dan kita minum… susunya…

The mind is its own place, and in itself, can make heaven of Hell, and a hell of Heaven. —John Milton

http://enda.goblogmedia.com


Dongeng Selengkapnya

Semua laki-laki pembohong!

liar-paradox.jpg
A man says that he is lying. Is what he says true or false? —Eubulides, 4th century BC

Abis baca judul diatas, kamu-kamu yang cewek pasti dengan semangat berkata “iya tuh!”, sedang kamu-kamu yang cowok paling tersenyum simpul dengan sorot mata ga bersalah sambil bersiul-siul “duu duuu duuu duuu” :p

Hehe, tapi sebelum kamu semangat ngasih komentar setuju atau ga setuju, coba kita garuk lagi pernyataan diatas.

Ketika saya menulis: “Semua laki-laki pembohong!” maka ada sesuatu yang aneh disitu, karena:

1. Saya seorang laki-laki
2. Saya berkata semua laki-laki pembohong

Maka dari dua elemen diatas terlihat kalimat “semua laki-laki pembohong” pun adalah sebuah kebohongan karena yang mengucapkannya adalah seorang laki-laki.

Artinya, semua laki-laki pembohong itu adalah bohong = semua laki-laki bukan pembohong?


Paradoks diatas dikenal luas diungkap oleh seorang filsuf dan penyair Yunani bernama Epimenides yang hidup diabad 6 sebelum masehi.

Epimenides, seorang Cretan, dilaporkan berkata: The Cretans are always liars.

Karena dia sendiri seorang Cretan, dan semua orang Cretan menurut dia adalah seorang pembohong, maka pernyataan Orang cretan selalu berbohong adalah juga tidak benar.

Contoh paling sederhana lain dari paradoks yang sama adalah kalimat:

Pernyataan ini salah

Kalo pernyatan diatas benar, maka seharusnya kalimat diatas mengandung kebenaran, tetapi kalimatnya sendiri sudah berkata bahwa kalimat tersebut salah. Maka pernyataannya jadi benar atau salah?

Kalau saya berkata “Saya berbohong”, maka apakah saya sedang berbohong bahwa saya bohong?

Kalo saya berkata “Jangan pedulikan kalimat ini”, maka apakah saya harus peduli pada peringatan jangan pedulikan kalimat tersebut?

Kita tidak bisa 100% berkata bahwa kalimat diatas salah atau benar. Yang terjadi adalah kontradiksi, karena sebuah kalimat bisa benar sekaligus salah dan bisa salah sekaligus benar.

Kalau begitu mana yang benar? Dan mana yang salah?

Hal yang paling mengganggu dari paradoks yang dikenal dengan nama Epimenides Paradox atau Liar Paradox ini adalah karena ia menunjukkan bahwa kepercayaan yang kita pegang erat tentang mana yang benar dan mana yang salah ternyata membawa kita pada sebuah kontradiksi.


Tulisan This is Not the Title of This Essay mencoba menjawab bahwa masalah dari Liar Paradox adalah self-reference.

Paradoks terjadi karena kita mengambil referensi dari diri kita sendiri.

Apa yang saya katakan salah, maka pertanyaan salah ini mengambil referensi dari kalimat itu lagi.

Paradoks diatas jadi masalah besar, terutama buat para matematikawan, dimana dunia adalah 0 dan 1 dan, sebuah pernyatan harus punya nilai jelas antara True (T) atau False (F).

Kurt G�del, di tahun 1931, menjelaskan problema self-reference diatas dalam sebuah teorema yang dikenal dengan nama G�del’s Theorem, yang mengatakan:

To every ω-consistent recursive class χ of formulae there correspond recursive class signs r, such that neither v Gen r nor Neg(v Gen r) belongs to Flg(&chi) (where v is the free variable of r)

Teorema G�del yang terlihat persis seperti sebuah paradoks sendiri (karena sumpah saya ga ngerti apa maksudnya hehe), pada intinya berkata bahwa niscaya kamu akan bertemu dengan kontradiksi kalo kamu melakukan self-reference atau kalaupun kamu melakukan self-reference pastikan kamu tahu bahwa itu adalah self-reference:) (btw jangan percaya sama G�del hehe)


Lalu buat kita yang bukan matematikawan dan bukan G�del apa artinya Liar Paradox ini?

Ada dua artinya.

Pertama, bahwa permasalahan ini adalah masalah khas manusia karena cuma manusia yg punya consciousness, dan cuma mahluk ber-consciousness yang bisa berbohong.

Kedua, berhati-hatilah ketika ada orang atau pihak yang meng-claim memiliki kebenaran dan benar 100% sehingga semua yang lain salah. Karena sudah kita sama-sama tahu bahwa benar dan salah adalah sebuah kontradiksi

Yang penting bukan benar atau salah karenanya, yang penting adalah percaya.

Tidak penting apakah kita benar dan dia salah, yang penting adalah ketika kita percaya kita benar (percaya? hehe).

Makanya, ketika kita berhadapan dengan sesuatu cuma ada dua hal yang bisa kamu lakukan.

Percaya itu benar. Atau percaya itu salah.

Atau.

Kamu bisa lakukan apa yang saya lakukan, tersenyum simpul dengan sorot mata ga bersalah sambil bersiul-siul “duu duuu duuu duuu” :p

http://enda.goblogmedia.com Dongeng Selengkapnya

Friday, November 16, 2007


Gue bingung, apa emang ga kreatifnya tuh penulis film Indonesia, sampe hanya mampu meneruskan cerita film horor Suster Ngesot, atau saking kreatifnya (karena malu menyebut ini sambungan dari Suster Ngesot?) dengan menyingkat nama sang hantu dengan istilah Suster N, ya oloh... pliss dehhhhh

N, sebenarnya memang Ngesot juga, tapi.... karena disingkat, tentu orang boleh donk menginterpretasikan "N" sesuai daya pikir mereka masing2

misalnya Suster N itu bisa berarti :
Suster Ngorok, pusiing deh jadi temen tidurnya
Suster Ngupil, pantesan idungnya kayak Titi Kamal :))
Suster Ngambek, sensi banget sih...
Suster Ngawur, pasien sakit perut malah dikasih obat pilek
Suster Nyempil, jadi inget Agni
Suster Ngerumpi, biasa kalo pada ngumpul sesama suster
Suster Nonton Sinetron, ini kalo lagi ga ada pasien di RS
Suster Ngajak Jalan, okeh deh... tapi jangan ketauan conya ya :)
Suster Nyalon, ini namanya suster modis
Suster Nyosor, itu kalo pasiennya Steve Emmanuel
Suster Nyante, ngapain rajin2 toh gaji tetep2 aja...

Mungkin besok2 ada lagi film horor baru yang berjudul "S. Ngesot"

By the way, kenapa lagi2 "suster" dipake produser film horor sebagai hantunya? kenapa bukan dokter? ato kepala rumah sakit? ato kalo perlu Menteri Kesehatan bisa juga jadi setannya...

Baca apa kata pemain film ini :

Kata Wulan Guritno (as Suster N) : ”Alasanku meneriwa tawaran berperan dalam film ini karena ceritanya yang menarik, segala sesuatu yang terjadi di sini for a reason jadi bukan dipaksakan atau diada-adakan , aku yakin film SUSTER N akan memberi warna yang berbeda dari film horor yang sedang merebak di Indonesia."

Kata Afif : "Apa bedanya sih sama film Suster Ngesot?, cuman bedanya satu pake nama asli, satu nama inisial, ngaku aja deh..."


Kata Titi Qadarsih : ”Selain ceritanya dan karakter yang unik, saya juga tertarik karena dalam film ini bisa bernostalgia main film bersama artis senior lain.”

Kata Afif : "Kalo mau reuni, ya adain pesta reunian donk tante..."


Henky Solaiman bilang ”Film ini memiliki kewajaran-kewajaran yang sering diabaikan oleh film horor lainnya. Saya tidak melihat adegan maupun dialog yang dibuat-buat, dan hanya untuk menakut-nakuti penonton.”

Kata Afif : "Memang gak nakutin sih, malah bikin ketawa sampe mules...."

HIM Damsyik bilang ”Sejak awal sudah menegangkan, jadi saya sarankan yang berpenyakit jantung sebaiknya jangan ikut menonton.”

Kata Afif "saya juga sarankan jangan nonton film ini deh, karena bisa bikin orang stress, udah ngeluarin duit tiket, eh nonton film yang gak jauh beda dengan film2 horor Indo lainnya " Dongeng Selengkapnya

Ada Yang Tau Sandra Dewi ?

Jujur, aku pun ga terlalu tau banyak about her.

Yang jelas doi bintang iklan WRP, wah belahannya kurang bawah dikiiit :P



Sini coba saya yg makein bajunya



kalo begini kayak Mulan malah



sukanya moto2 sendiri yah



dan doi berkerudung



ya inilah Sandra Dewi, bukan Dewi Sandra :)
Dongeng Selengkapnya

Dhani - Mulan (Again!)

Oh gue semakin ga ngerti, Dhani ini emang ama Mulan ato gimana sih??
coba perhatiin deh tingkah Dhani terhadap Mulan

Meremas dada Mulan



Memeluk pinggang Mulan



Merangkul Mulan



Hendak mencium Mulan (?)



Pleaseeee deh Mulan, itu suami orang !


Dongeng Selengkapnya